Kedokteran China tradisional (traditional Chinese medicine/TCM) dan kedokteran Barat modern sama-sama berurusan dengan kesehatan manusia dalam upaya mencegah dan mengobati penyakit. Bedanya ada dalam pendekatan yang dilakukan. Karena itu, para ahli berharap di masa depan TCM bisa melengkapi, bahkan sejajar dengan kedokteran modern.

Harapan itu diungkapkan oleh dr Swee Yong Peng, dokter TCM dan ahli akupuntur, serta Profesor Li Fu Min, spesialis imunologi dan onkologis TCM dari Singapura, dalam wawancara khusus dengan Kompas.com yang dilakukan di Jakarta beberapa waktu lalu.

Peradaban masyarakat China yang sudah dikenal sejak ribuan tahun mewariskan pandangan, kebijaksanaan, hingga ramuan dan pengobatan penyakit yang masih bertahan hingga kini. Meski demikian, Prof Li mengakui bahwa perkembangan TCM bergerak lebih lambat bila dibandingkan dengan kedokteran Barat.

Dalam praktiknya, TCM lebih dipengaruhi pemikiran dan penalaran ilmu China kuno. Sedangkan kedokteran Barat, menurut Prof Li, lebih dipengaruhi analisis ilmiah yang mengutamakan bukti-bukti (evidance base).

"Pengobatan tradisional China selalu melakukan pendekatan holistik. Kami percaya bahwa penyakit, seperti kanker, merupakan presentasi dari kondisi tubuh secara keseluruhan," papar Prof Li. Sedangkan dunia kedokteran 'barat' lebih fokus pada penyakitnya.

"Kedokteran Barat terlalu ilmiah dan melakukan berbagai cara untuk menyingkirkan penyakit, sehingga lupa dengan pasien, padahal tujuan dari pengobatan seharusnya juga untuk menyelamatkan pasien," sambung Swee. Dalam kedokteran China tradisional, selain mengobati, dokter juga akan melakukan manajemen penyakit. "Terkadang, manusia bisa hidup harmonis dengan sel kanker," ujar Prof Li.

Riset ilmiah
Untuk mendekati dan menyejajarkan diri dengan kedokteran modern, kini TCM semakin giat melakukan modernisasi, salah satunya dengan dukungan riset yang dilakukan secara ilmiah. "Tidak benar bila kami tidak didukung bukti ilmiah," ujar dokter Swee.

Bila dulu pengobatan China tradisional identik dengan tempat praktik kecil dengan deretan toples rempah-rempah dan dilayani dengan shinse, kini TCM hadir dengan bentuk fisik klinik yang bersih dan modern serta tenaga dokter yang secara khusus mempelajari kedokteran China.

Modernisasi yang dilakukan tersebut, menurut Swee, membuat banyak orang muda modern yang tertarik dengan TCM. Berbeda dengan generasi sebelumnya, kini orang-orang muda mencari pengobatan TCM setelah tidak mendapatkan kesembuhan dari pengobatan modern.

"Orang muda yang berobat ke klinik kami pada umumnya untuk mengatasi rasa nyeri, seperti sakit punggung atau tujuan estetika, misalnya pelangsingan tubuh," ungkap Jacqueline Eng, associate director klinik IAG Singapura. Namun, secara umum pasien yang berobat ke TCM bertujuan untuk menyembuhkan kanker.

Menurut Prof Li, obat-obatan yang digunakan dalam TCM bukan hanya untuk mengobati atau mencegah kanker, tetapi juga sebagai lanjutan terapi yang dilakukan pasien dalam pengobatan modern. "Tujuannya untuk meningkatkan kekebalan tubuh, baik sebelum, selama, atau untuk mengatasi efek samping setelah kemoterapi," katanya.

Selain itu, TCM juga membantu kekambuhan dan penyebaran tumor ke bagian tubuh lain. "Bila pasien datang pada saat kanker masih stadium awal, dokter akan bisa melihat arah penyebaran penyakitnya sehingga bisa dicegah," ujarnya.

Pengobatan China tradisional menggunakan ramuan tumbuhan ataupun bagian dari hewan untuk oral, suntikan, maupun olesan. Selain itu, digunakan akupunktur, pijat, serta latihan gerak dan pernapasan. Sejauh ini kedokteran China ikut berperan dalam pengobatan kanker, gangguan jantung, diabetes, gangguan darah (hematologi), ginekologi (kandungan), serta penyakit pada anak.

"TCM tidak mungkin menggantikan pengobatan modern, tapi di masa depan kami berharap TCM dan kedokteran Barat akan bersatu dan mendapat sebutan yang sama, medicine. Saat itu terjadi, akan ada kehidupan yang lebih baik bagi umat manusia," kata Prof Li.

Sumber : kompas